Wayang Kulit Sebagai Sarana Dakwah Dan Peletestarian Budaya Diera Kemajuan Teknologi

Wayang Kulit Sebagai Sarana Dakwah Dan Peletestarian Budaya Diera Kemajuan Teknologi 


Islam tidak masuk dengan begitu saja ke tanah Nusantara kita pada awalnya. Agama ini pada akhirnya diterima masyarakat pun melalui berbagai proses panjang serta hambatan-hambatan besar yang dialami oleh para pembawanya sebagaimana setiap hal baru yang sifanya asing dan belum diketahui orang-orang sebelumnya. Agama ini masuk berkat peran besar yang diberikan oleh pendakwah islam yang datang dari berbagai negara terutama timur tengah. Dekade demi dekade terlewati hingga sampailah pada era 9 wali yang biasa dikenal dengan Walisongo. Walisongo merupakan 9 tokoh besar dalam islam yang mengambil andil besar dalam penyebaran agama islam di seantero pulau Jawa dengan menggunakan pendekatan budaya serta tradisi turun temurun yang biasa dilakukan masyarakat pulau ini. Salah satu media yang pendakwah ini manfaatkan dalam penyebaran agama islamnya adalah Wayang kulit. Wayang semula merupakan kesenian dan ciri khas yang melekat pada agama Hindu-Budha, namun karena pada saat itu masyarakat sangat menyukainya, walisongo terutama sunan kalijaga kemudian memodifikasi media ini agar bernuansa islam dengan tujuan supaya ajaran agama lebih mudah diterima masyarakat luas tanpa adanya paksaan apalagi ancaman yang menimbulkan keresahan.  Kesenian wayang kulit termasuk ke dalam kelompok media dakwah audio visual terlihat dari pementasan wayang yang mengandung unsur suara serta permainan wayang yang dipadukan. Metode dakwah pada prinsipnya mengacu pada dua aktivitas yaitu aktivitas bahasa lisan atau tulisan, maupun aktivitas badan atau perbuatan. Hal ini juga dijelaskan dalam Al-Quran tentang bentuk-bentuk metode dakwah dalam surat An-Nahl ayat 125 :

عَنْ ضَلَّ بِمَنْ اَعْلَمُ هُوَ رَبَّكَ اِنَّ اَحْسَنُۗ هِيَ بِالَّتِيْ وَجَادِلْهُمْ الْحَسَنَةِ وَالْمَوْعِظَةِ بِالْحِكْمَةِ رَبِّكَ سَبِيْلِ اِلٰى اُدْعُ

بِالْمُهْتَدِيْنَ اَعْلَمُ وَهُوَ سَبِيْلِهٖ

Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

Tugas UAS
Muhammad Rizki Ana Putra 
201910200311077
Fakultas Pertanian Peternakan/Agroteknologi 
Universitas Muhammdiyah Malang

 

Komentar